Ilustrasi puisi (pixabay)
Ilustrasi puisi (pixabay)

Lalu Itu Liku Luka
*dd nana

-41

Lalu kau berkisah
tentang luka para nabi dan 
para pecinta yang diparaskan
dengan barah, dengan darah
dengan liukan luka-luka 
sebelum jelma erang yang digambarkan
dalam jalur-jalur meliuk serupa peta.

Tersenyumlah, ucapmu sebelum mengisahkan
masa lalu tentang liukan luka pada
tubuh para nabi dan para pecinta itu.

Liukan luka serupa sayap kupu-kupu
yang senyap sebelum hinggap
menancapkan sesuatu yang meliukkan
bibirmu. Jangan kau tahan air mata itu
Kelak, ada yang tumbuh dari nyeri itu.

Bunga yang mekar dengan aroma perawan
atau senyum yang mengekal hingga kau menutup
kisah hidup yang terlalu sebentar.

Ingatkah kau dengan Nuh atau Ayub
yang menangis dilipat liuk luka sambil menengadah
pada Tuhannya. 

Maka tumpahkan saja air mata, serupa lalu itu
karena liuk luka juga yang akan melahirkan
nama-nama yang mengekal dalam kisah.

Dalam tangis, dalam senyum
yang tak sedalam luka.

Karena luka itu membuka
sesuatu yang begitu rapat
walau tak hujam seperti kau kira
Percayalah. Lalu itu telah mengabarkan
liku luka hanya liukan yang menorehkan
jejak dangkal di kedalaman cinta.

42-

Matamu mengabarkan 
luka di lalu kita meminta 
untuk diperbincangkan.

Di meja makan pada pagi hari
yang murung.

Secangkir kopi, setangkup roti bakar
dan aroma lembab sabun di tubuhmu
menyesaki dada.

Seharusnya kita bercinta
Tapi, luka meminta nyeri aduhmu, sayang
setelah segala kesenangan kau hidu
dari tubuhku.

Lihatlah liuk luka lalu itu
yang pernah kau berangus
Pada puisi-puisi yang kau cipta dini hari
sebelum pejam mata, luka berkisah padaku.

Ingatkan padanya ada aku yang serupa waktu
saat hidup mulai datar dan membuat orang-orang
menua begitu lekasnya.

Luka ingin diperbincangkan, sayang
seperti yang lalu itu, sebelum kita merasa kenyang
dengan apa yang kita sebut bahagia.
 

*Hanya penikmat kopi lokal