Reuni 212 (hidayatullah.com)
Reuni 212 (hidayatullah.com)

Reuni 212 yang dibesut beberapa organisasi masyarakat seperti FPI, alumni 212, dan GNPF MUI serts akan digelar 2 Desember 2019 besok tak bisa lepas dari  ramainya perbincangan yang melahirkan pro dan kontra dalam masyarakat.
Baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

Berbagai kalangan, tak terkecuali pemerintah pun, ikut melempar pernyataannya atas acara itu. Seperti Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenpanRB) yang  telah mewanti-wanti aparat sipil negara (ASN) yang mengikuti reuni 212 berpotensi kena sanksi.

Pun beberapa kalangan lain yang menyampaikan reuni 212 hanya kuda tunggangan untuk kepentingan politik, seperti ramai juga dicuitkan warganet dalam beberapa hari ini menjelang reuni 212 akan digelar.

Berbagai pernyataan itu pun berbalas dengan kelompok yang pro dihelatnya reuni 212. Bahkan, di dunia nyata tagar #SiapHadiri212BersamaHRS telah mendulang suara warganet sebanyak 18,3 ribu, Sabtu (30/11/2019) malam. Seperti salah satu warganet bernama @Tetty082376. "Kami sambut kadatanganmu dengan penuh suka Cita REUNI AKBAR 212 ( 2 December 2019 ) wahai IMAM BESAR kami  Habib Riziq Shihab (HRS)," cuitnya.

Juru bicara Persaudaraan Alumni (PA) 212 Ustaz Haikal Hassan menyampaikan bahwa di reuni 212 memang diupayakan HRS bisa hadir. "Kita lagi mengupayakan supaya Habib Rizieq bisa hadir. Itu saja. Usaha masih terus sampai kita maksimum dalam berupaya," ujarnya. 

Pro dan kontra pun semakin menggelinding dengan adanya rencana reuni 212 akan dihadiri HRS. Masyarakat semakin terpecah, baik dengan acara reuni maupun rencana datangnya HRS yang menjadi tokoh yang juga banyak diperdebatkan sampai saat ini.

Terbelahnya masyarakat terlihat dari hasil sebuah survei dari Parameter Politik Indonesia. Sebuah upaya akademik terkait pro dan kontra dalam masyarakat dengan reuni 212. 

Melibatkan sampel 1.000 responden dari tanggal 5-12 Oktober 2019 dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling dan metode face to face interview, hasil survei dengan margin of error sebesar ± 3,1 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen memperlihatkan sikap masyarakat Indonesia terkait gelaran 212.

"Ada 33,6 persen masyarakat yang tidak mendukung dan 32,5 persen mendukung aksi massa tersebut. Terbelah, tapi cenderung tidak mendukung," ujar Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno beberapa waktu lalu seperti dikutip tempo.co.

Dari hasil survei itu juga terlihat bahwa pendukung aksi mengalir dari masyarakat kota berusia muda, berpendidikan tinggi, pemilik medsos, beragama Islam, dan pendukung Prabowo-Sandi. Artinya, lanjut Adi, reuni 212 ternyata masih ada unsur dari ramainya Pilpres 2019 lalu. "Sisa-sisa pilpres masih ada," ujarnya.

Walau cenderung tidak mendukung adanya reuni 212,  hasil survei juga menunjukkan secara umum masyarakat Indonesia memiliki persepsi bahwa kehadiran ormas pengusung 212 tidak mengancam iklim demokrasi Indonesia.

Lantas, apa agenda reuni 212 yang besok akan digelar dan diklaim oleh penyelenggara akan dihadiri satu juta orang itu? Selain agenda yang ramai dituliskan dalam berbagai informasi acara, seperti salawatan, munajat, berdoa bersama dalam memperingati Maulid Nabi, Ketua Media Center Persatuan Alumni 212 Novel Bamukmin membocorkan agenda lainnya. Yakni mendesak kepolisian untuk memproses hukum Sukmawati Soekarnoputri yang dituding membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Presiden pertama Indonesia Soekarno.

Selain itu, agenda lama yang terus digaungkan terkait  memulangkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab dari Arab Saudi ke Jakarta. Juga memperjuangkan hak asasi manusia di Palestina atas pendudukan Israel yang masih berlangsung hingga saat ini.