Kondisi sungai di Kecamatan Kesamben yang tercemar limbah. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)
Kondisi sungai di Kecamatan Kesamben yang tercemar limbah. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Sungai di Dusun Gongseng, Desa Pojokrejo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang tercemar limbah dan mengeluarkan aroma tak sedap. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang menyimpulkan, sungai tersebut tercemar limbah klorin dan belerang.

Pantauan wartawan di lokasi, air saluran buang atau avur Sungai Budug Kesambi ini terlihat berwarna hitam kecoklatan. Sungai dengan lebar kurang lebih 4 meter ini, juga terlihat berbuih dan mengeluarkan aroma busuk. Tidak hanya itu, di dalam sungai juga ditemukan beberapa ikan dalam kondisi mati.

Salah seorang warga sekitar Waluyo (45) menuturkan, kondisi hitam dan keruhnya aliran air sungai yang melintas di sisi utara Desa Pojokrejo itu sudah berlangsung sejak lama.

Ia menduga, kondisi air sungai tersebut disebabkan oleh limbah cair dari pabrik kertas yang berdiri di sisi barat Desa Pojokrejo. Sungai yang diduga tercemar limbah dengan pabrik yang dimaksud Waluyo, berjarak sekitar 3 kilometer.

"Sudah sejak lama kondisi seperti ini, ada 7 hingga 8 tahunan sejak ada pabrik berdiri. Kalau kemarau kelihatan, warna airnya hitam dan baunya itu hampir sama dengan etanol. Kalau terkena kulit, efeknya gatal-gatal sampai sampai melepuh," terang Waluyo, saat diwawancarai di lokasi, Kamis (28/11/19) siang.

Padahal, air sungai yang diduga tercemar limbah tersebut ternyata juga digunakan untuk mengairi sawah yang berada di sepanjang aliran sungai. Hasilnya, sawah yang ditanami jagung itu mati.

Seperti yang dialami oleh Suwarno (45) salah satu warga Dusun Gongseng, Desa Pojok rejo, Kecamatan Kesamben. Dia mengaku, tanaman jagung yang siap panen itu mengering setelah diairi dengan air dari sungai tersebut. "Dampaknya saat air digunakan mengairi tanaman, tiga hari setelahnya tanaman jagung menjadi mengering," terangnya.

Menurut Suwarno, tanaman jagung yang ia rawat memiliki luas sekitar 2 hektar. Namun, yang mengering diperkirakan seluas 350 bata atau RU. "Yang rusak bulirnya juga kopong. Utamanya yang sisi utara. Ini tidak tahu selanjutnya dipanen atau gimana. Kalau panen normal bisa 2 ton lebih hasilnya. Tapi kalau seperti ini ya menyusut hasilnya," ujarnya.

Sementara, DLH Kabupaten Jombang mengaku sudah melakukan uji laboratorium terkait limbah yang mencemari sungai yang bermuara ke avur Watu Dakon. Dari pengujian itu, dipastikan sungai tercemar limbah yang mengandung belerang.

Melalui parameter BOD (Biological Oxygen Demand), COD (Chemical oxygen Demand) dan TSS (Total Suspended Solid) yang digunakan, diketahui baku mutu limbah melebihi batas yang sudah diperbolehkan.

"Hasil labnya mengandung belerang dan klorin. Tapi yang cenderung itu belerangnya. Batas baku mutunya kalau tidak salah maksimal 0,02. Ini yang terjadi lebih dari itu" terang Kepala Bidang Wasdal Gakkum DLH Jombang Yuli Inayati saat dihubungi wartawan, Kamis (28/11).

Masih menurut Ina, pencemaran limbah ke sungai ini berasal dari dua pabrik yang ada di Kecamatan Kesamben. Namun, ia belum bisa memastikan hal itu karena masih butuh pembuktian lagi. "Sementara sumbernya dari dua industri, tapi ini masih dalam pembuktian," ungkap nya.

Ina juga masih berupaya memastikan dampak dari pencemaran limbah itu. Hanya saja menurut laporan warga, lanjut Ina, banyak warga yang merasa gatal-gatal karena bersentuhan langsung dengan limbah.

"Intinya kalau melebihi baku mutu mengakibatkan kerusakan. Kalau yang diadukan oleh masyarakat itu gatal-gatal pada kulit dan mengakibatkan ikan di sungai mati," pungkas nya.(*)