Sandiaga Uno (nawacita)
Sandiaga Uno (nawacita)

Sandiaga Uno secara lugas merespons ramainya perbincangan ataspertemuan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto  dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang diikuti pertemuan Prabowo bersama Megawati Soekarnoputri sebagai manuver politik Gerindra untuk bisa masuk dalam jajaran kabinet Jokowi-Ma'ruf 2019-2024. 

Sandiaga menampik bahwa dirinya, yang berpasangan dengan Prabowo di Pilpres 2019, berharap bisa mendapat jatah kursi menteri ekonomi serta menjadi bagian dalam jajaran kabinet Jokowi-Ma'ruf dalam urusan ekonomi rakyat Indonesia.

"Saya tidak dilibatkan. Terkait Partai Gerindra, saya memang tidak dilibatkan. Karena sejak tanggal 27 Juni 2019 lalu, itu partai pendukung bebas untuk memilih langkah politiknya," kata Sandiaga, Selasa (30/07/2019) malam dalam acara ILC.

Sandiaga juga menegaskan pilihan pribadinya terkait ramainya beberapa pertemuan Prabowo maupun elite Gerindra yang menyampaikan berbagai program di sektor ekonomi kepada pemerintah. Hal itu diasumsikan Prabowo dan dirinya sedang "mengincar kursi menteri" dalam kabinet Jokowi-Ma'aruf.

"Yang terpilih berikan kesempatan membentuk kabinet. Yang belum menempatkan diri di luar pemerintahan untuk melakukan kritik konstruktif, yang baik, dan tentunya bersahabat. Kalau semua ada di pemerintahan, siapa yang akan mengawal harapan 68 juta orang yang memilih kami di pilpres?" ujarnya.

Menurut Sandiaga, harapan 68 juta orang itu, khususnya terkait perubahan ekonomi, harus terus dikawal. "Jangan sampai mereka kecewa. Kita bisa kawal suara mereka lewat legislatif atau melalui masyarakat, melalui media massa terkait pandangan-pandangan kita," tandasnya.

Walau tidak mewakili partai politik dan beberapa kali disampaikan  bahwa pernyataannya bersifat pribadi, Sandiaga juga mengatakan, koalisi Jokowi sudah cukup secara  jumlah partai yang mendukungnya. Para kadernya juga dianggap memiliki talenta cukup untuk menelurkan kebijakan. Sehingga, dirinya secara pribadi kembali menegaskan, yang belum terpilih bisa memberikan masukan konstruktif di luar kabinet.

Pertanyaan soal dua pertemuan penting yang dilakukan Prabowo tanpa dirinya serta adanya dugaan dirinya ditinggal secara lugas dijawab pula oleh Sandiaga. Pria berlatar belakang pengusaha itu selalu berkomunikasi dengan Prabowo terkait langkah-langkah yang diambilnya.

"Selalu berkoordinasi Pak Prabowo dengan saya. Pertemuan MRT maupun di Teuku Umar juga, tapi kebetulan memang saya lagi berada di luar negeri," ujarnya.

Di ujung pembicaraan, Sandiaga juga berpesan dan mengingatkan kepada para elite politik agar jangan sampai terjebak siklus politik tahunan. Hal ini diungkap saat Sandiaga menyorot  manuver NasDem melalui Surya Paloh yang bertemu Gubernur Jakarta Anies Baswedan di Gondangdia serta ramainya perbincangan terkait dukungan politik kepada Anies Baswedan untuk  2024 mendatang.

Sandiaga, yang sebenarnya enggan berkomentar karena menurut dia itu bukan ranah dan wilayahnya, akhirnya menegaskan dengan dasar adanya kebutuhan mendesak masyarakat terkait perubahan ekonomi. "Menurut saya, terlalu prematur itu. Yang sekarang saja belum dilantik, kok sudah ngomong 2024. Bagi rakyat, kebanyakan saat ini mereka menunggu berbagai janji dan program saat Pilpres 2019," ungkapnya.

Sandiaga mencontohkan bahwa ada persoalan mendesak di tengah masyarakat terkait tarif listrik, harga sembako, pekerjaan, pengangguran dan hal lain yang lebih penting untuk segera dibicarakan oleh para elite politik, khususnya pemenang Pilpres 2019.

"Karena itu, kenapa Pak Jokowi harus menunggu Oktober untuk kerja. Pak Jokowi bisa pilih menteri sekarang dan bisa melakukan apa yang dijanjikan kemarin," pungkas Sandiaga.