Ach. Dhofir Zuhry
Ach. Dhofir Zuhry

 

"Selalu yang terjadi yang terbaik dan ada maksud baik, terima dengan indah dan gembira!"

NYARIS selalu kegagalan hidup berawal dari kegagalan memaknai hidup, dan kegagalan memaknai hidup sangat ditentukan oleh cara pandang dan mind set manusia sendiri. 

Tak jarang, orang yang yang justru berpendidikan, justru bingung memaknai hadirnya di muka bumi. Kita dapat saksikan bukti konkretnya dengan bertanya-tanya mengapa banyak sakali sarjana menganggur?

Ya, semua berawal dari cara pandang dan paradigma yang dibangun oleh seseorang sejak ia sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang berpikir. Sangat boleh jadi belasan juta sarjana yang menganggur itu terlalu "gengsi" kepada gelarnya untuk bekerja dan memaknai kerja sebagai sebuah proses, mereka hanya menunggu "didatangi" oleh rizki dan bukan "menjemputnya".
  
Merasionalisasi segala hal dalam hidup ini tentu tidak salah, sebab Tuhan sendiri memberlakukan hukum kausalitas, hukum sebab-akibat bagi semua penduduk bumi ini.

Akan tetapi, di sisi lain, hamparan hidup ini terlalu luas jika semuanya harus dinalar dan menjadikan rasio sebagai standar ukuran dari segalanya. Inilah bibliolatri, Bibliolatri itu bisa baik bisa buruk, yakni merasionalisasi apa yang terjadi dengan rasionalitas dan pengetahuan semata-mata.

Kalau sekarang (misalnya) seseorang mendapati hidupnya dalam keadaan baik, tentram, penuh cinta-kasih dan kebahagiaan, itu semata-mata karena setiap hal setelah kejadian dimaknainya positif dan pasti yang terjadi adalah yang terbaik, bahkan yang apa-apa yang telah dipilihkan oleh Allah SWT jauh lebih baik dari keinginan manusia sendiri.

Sebaliknya manakala keadaan serba rumit dan kacau sedang menimpa kita, segeralah kita salahkan keadaan nasib dan perlahan kita sesalkan kenapa harus hidup. Bukankah sebenarnya ujian selalu berbanding sejajar dengan kesanggupan manusia menegatasinya?

Bahkan, sesungguhnya Tuhan sangat Mahatahu dengan kualitas hamba-hambaNya. Ujian dan cobaan tak lain adalah agar manusia saksikan sendiri kualitas dirinya. Jika masih buruk, ya diperbaiki, jika relatif sudah baik, ya ditingkatkan.

Nah, jika baik-buruknya keadaan adalah yang terbaik dan memang selalu pantas bagi manusia, hanya saja mungkin belum sekarang hal itu terjadi. Lantas, di manakah kesalahan manusia?

Benar, manusia terlalu tergesa-gesa, tidak sabar dan gegabah dalam menanti "hikmah" atau nilai plus dari setiap kejadian, tragedi dan fenomena kehidupan.

Nilai tambah dari jerih payah manusia yang sama sekali di luar jangkauan nalar itulah yang dalam bahasa agama disebut barokah atau berkah, yakni berbuat satu atau sedikit hal (yang dengan ikhlas dan semata-mata karena Allah), maka kebaikan yang kita terima sama sakali di luar jangkauan akal budi.

Oleh karenanya, jika ingin gembira dan bahagia, laampauilah pikiran Anda! Hidup memang penuh hal luar biasa. Segala nya telah diatur sedemikian rapi detil dan tertib.

Begitu sempurna, antara satu hal dengan yang lain saling terhubung-terkait dan bertali-temali, adil dan selalu seimbang dalam harmoni. Semua yang terjadi adalah yang terbaik yang bisa terjadi dari segala aspek.

Inilah cara yang benar memaknai hidup. Sama seperti gerakan shalat: mula-mula gerakannya adalah berdiri. Secara matematis, sudutnya adalah 1800 dan posisi otak atau rasio di atas.

Gerakan yang kedua adalah ruku’, yakni posisi membungkukkan badan di mana letak kepala dan punggung harus rata membentuk sudut 900. Dalam posisi ini otak dan hati seimbang, akal dan iman harus sejalan, intelektualitas dengan spiritualitas harus seimbang.

Kemudian gerakan berikutnya adalah sujud, secara metematis membentuk sudut 450. Dalam sujud, kepala (otak) lebih rendah dari hati, bahkan mencium tanah. Ketika sujud inilah seorang hamba sangat dekat dengan Tuhan-Nya.

Dan, dalam satu rekaat shalat, sujud diulang dua kali, maka satu rekaat shalat (berdiri, ruku’ dan sujud) adalah 3600 atau satu lingkaran penuh. Pendek kata, perputaran hidup manusia tak cukup hanya mengandalkan akal dan intelektualitas, tetapi juga spiritualitas.(*)

*Penulis adalah Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Al-Farabi dan Pengasuh Pesantren Luhur, Kepanjen, Malang