Ach. Dhofir Zuhry
Ach. Dhofir Zuhry

 

"Pikiran adalah pelayan yang baik, tetapi majikan yang buruk."

TIDAK seperti burung-burung yang lain pada umumnya, elang adalah simbol binatang petualang dan pecinta kebebasan. Ia rela terbang bermil-mil jauhnya hanya untuk mencari mangsa dan mempertahankan hidup.

Sebagai salah satu raja di udara di samping kekuatan fisik dan anatomi tubuh nan gagah kepakan sayap nan pasti serta bulu-bulu di sekujur tubuhnya yang berwibawa, paruh dan cakar yang sama ganasnya, yang dengan sekali cengkram akan melumpuhkan mangsa.

Tak hanya itu, elang juga memiliki mata yang awas dengan jarak pandang yang jauh, sebuah perlambang dari pandangan hidup yang visioner dan berorientasi pada masa depan.

Satu lagi, suara melengking elang yang membelah cakrawala merupakan lambang dari kematangan karakter yang kharismatik. Sehingga, tanpa melihatnya pun binatang-binatang lain yang biasa menjadi mangsa akan segera lari terbirit-birit.

Elang adalah binatang pemburu dan petarung, suka tantangan, pantang menyearah dan putus asa, berangkat di pagi hari dan pantang pulang sebelum mendapat mangsa dan buruan.

Karakter yang kurang-lebih dimiliki oleh pemimpin-pemimpin besar dunia dan para penakluk dalam sejarah umat manusia. Bahkan, negara Adidaya, Amerika Serikat, menjadikan elang sebagai lambang negara sejak tiga abad yang lalu, ketika negara serikat itu merdeka dari Inggris.

Sebagai perbandingan, marilah kita saksikan binatang (khususnya unggas-unggas) yang lain, seperti: ayam, kalkun, kenari, beo, atau sekalian bebek dan burung peliharaan lainnya.

Ketika unggas-unggas lain lebih memilih menjadi “binatang ternak”, tentu saja karena makanan dan tempat tinggal gratis serta hidup yang terjamin, elang seakan bergumam, “sulit untuk dipercaya bahwa ada pihak yang mendapat sesuatu tanpa imbalan, tanpa pamrih.

Lagi pula, aku lebih suka terbang tinggi dan bebas mengarungi langit luas, bekerja untuk menyediakan makanan dan tempat bernaung tidaklah buruk. Kenyataannya, aku mendapati hal itu sebagai tantangan menarik”.

Ketika unggas dan binatang-binatang lain lebih memilih confort zone, elang memutuskan bahwa ia lebih mencintai kemerdekaannya dibanding menyerahkannya diri begitu saja menjadi penghias kandang dan sangkar.

Sembari terbang lepas landas, Elang seakan mengingatkan unggas-unggas lainnya, “hati-hatilah dengan pikiranmu! Ingat, pikiran selalu menyabotase diri. Pikiran adalah pelayan yang baik, tetapi majikan yang buruk.” 

Meski kadang sesekali tergoda dan ingin menikmati hidup seperti unggas dan binatang peliharaan lainnya, elang mantap dengan keputusannya untuk menikmati tantangan yang membuatnya hidup semakin terasa dan berdenyut.

Elang tak ingin berhenti, sebab diam adalah mati. Ia meneruskan penerbangan untuk petualangan baru yang ia tidak ketahui bagaimana ke depannya, namun tetap yakin bahwa kehidupan hanya menghargai usaha, bukan alasan. 

Sementara itu—sebagai konsekuensi logis dari keputusannya untuk bebas—elang terus berkeliaran membelah angkasa mencari mangsa, namun demikian unggas-unggas lainnya bertumbuh menjadi burung-burung yang gemuk dan pemalas, nyaris hanya makan dan tidur.

Ketika binatang-binatang lainnya terpenjara dan dikuasai sepenuhnya oleh si empunya, elang enggan menyerah pada tantangan hidup dalam mencari aman dan cenderung berada pada zona nyaman. 

Demikian memang, acap kali kita saksikan betapa banyak manusia yang lebih memilih menjadi penjilat dan “menggadaikan” harga diri dan masa depannya demi hidup yang serba instan dan tanpa tantangan.

Anda mungkin sedang menyerahkan kemerdekaan Anda, dan Anda akan menyesalinya setelah segalanya berlalu dan tidak ada kesempatan lagi. Seperti pepatah kuno “selalu ada keju gratis dalam perangkap tikus”.

Padahal, tidak ada makan siang gratis, tidak ada hasil tanpa jerih payah, no gain no pain. Oleh karenanya, jangan mau jadi ayam, kalkun atau bahkan kenari dan burung beo, tapi jadilah elang: berpikir bertindak hidup dan mati sebagai elang. 

Terbang melintasi angkasa dan cakrawala, memandang jauh ke depan, visioner, serta tidak tergesa-gesa dan rapuh dalam menentukan sikap, meski godaan dan kesenangan nyaris selalu menggiurkan dan memesona.

Bahwa keputusan yang kita ambil kadang membuat hidup makin menderita, yakinlah, itu hanya sementara, pasti pada akhirnya membahagiakan mengenangkan.

Segala sesuatu akan indah pada waktunya, bukankah setiap saat kita menciptakan kenangan indah? Oleh karenanya, rencanakanlah hidup dengan visi yang baik, atau hidup akan memaksamu untuk sekedar menjalani hidup. (*)

*Penulis adalah Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Al-Farabi dan Pengasuh Pesantren Luhur, Kepanjen, Malang